lingkungan desa suntenjata 1

Profil

Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 2015 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan Peraturan Daerah Kabupaten Bandung Barat Nomor 2 Tahun 2015 tentang Desa yang dimaksud Desa adalah Kesatuan masyarakat Hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa Suntenjaya yang kondisi letak desanya berbukit dan bergelombang. Keadaan ini yang harus dicermati oleh Pemerintah Desa khususnya dan Pemerintah Kabupaten Bandung Barat pada umumnya dalam pengelolaan potensi dan sumber daya alam yang ada. Tidak banyak sumber daya alam yang potensial.

Di Desa Suntenjaya potensi usaha yang menonjol adalah Pertanian dan Peternakan. Sebagian penduduk banyak yang menggantungkan hidupnya dengan mata pencahariannya pada pertanian dan peternakan. Kegiatan Pemerintahan Desa berjalan dengan baik dan sesuai dengan Anggaran yang telah tertuang dalam APBDesa. Kontrol pelaksanaan Penyelenggaraan Pemerintah Desa dilakukan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dan masyarakat Desa Suntenjaya.

 

  1. Sejarah Singkat Desa Suntenjaya

Nama Suntenjaya berdasarkan hasil musyawarah pada waktu itu, diambil dari nama seorang Aria, Senopati Bagian Pemerintahan Kerajaan Ciung Wanara seperti tersebut diatas, dengan Harpiah ( artinya ) adalah :

  1. Sunten dalam bahasa Sunda adalah Santen, dimana setiap manusia lahir selalu dibarengi santen atau sering disebut Bali.
  2. Dalam tumbuhan santen adalah saripati Kelapa, pada manusia sama dengan hati.
  3. Dalam sebutan waktu santen adalah sonten, sama dengan sore yang bermakna pada usia manusia sama dengan dewasa.
  4. Jaya berarti Kemajuan atau kemakmuran, maka SUNTENJAYA, memiliki arti/makna sebuah wilayah yang lahir, Kuat, Mandiri, memiliki nilai-nilai luhur kemanusiaan, Dewasa, dan Makmur.

Desa Suntenjaya, lahir dari hasil Pemekaran Desa Cibodas, Desa Cikadut dan desa Cimenyan, konon pada Tahun 1979 Desa Cibodas, dianggap sudah memenuhi syarat untuk dimekarkan, dengan luas wilayah 1456, 65 Ha terdiri dari : Luas Pemukiman (50 Ha), Lahan Pertanian (310 Ha), Kehutanan (889 Ha), Perkebunan (220 Ha). Dengan Jumlah penduduk waktu itu sekitar + 2.774 jiwa, terdiri dari : 9 (Sembilan) RW dan 12 (dua belas) Kampung yaitu ; Gandok, Sukamanah, Dago, Dago Kidul, Binong, Cibodas, Pasir Angling, Ciawitali, Sukaluyu, Cikapundung, Batuloceng dan Loji.

Panitia Pemekaran Dari Pemerintah Desa Cibodas Terdiri Dari Bapak Ase Masli Kepala Desa Cibodas, Bapak Maman Abdurahman Juru tulis 1, Bapak Oro Rojatna juru tulis 2, Dari Tokoh Masyarakat Terdiri Dari Bapak Otoy Patria Negara , H.Cece Somantri, Bapak Warya, Bapak Wandi, Bapak Udi Sukandi, Bapak Endek Suwito, Dan Bapak Biya Subiya.

Dari Tokoh Masyarakat Desa Suntenjaya Terdiri Dari Bapak A. Wiharya, Bapak T.Suganda Dan Bapak Sutisna Saputra.

Bupati Kepala Daerah Tingkat II kabupaten Bandung pada masa Bupati Bapak Sani Lufias Abdurahman, dan Camat Lembang pada masa itu Bapak Nonon Sontani.

Pusat Pemerintahan Desa Suntenjaya, ditetapkan di Kp. Patrol, dan pada awalnya berkantor di rumah Bapak Ratma, dan pada hari Rabu Tanggal 13 Maret 2012 pindah ke kampung Cibodas RW. 14. Berdiri diatas tanah dengan luas 1.526 m2 dengan rincian dibeli seluas 1.126 m2 dan wakaf seluas 406 m2 dari Akhli waris H. cece Somantri.